Berwisata ke Kawasan Bukit Menoreh dan Ketep Pass

Sudah setengah tahun lebih aku tidak berwisata dengan si gaby (nama sepeda motor  ku), terakhir sewaktu acara Dieng Rally salah satu event forum Nusantaride dan Ujung Genteng bersama teman-teman dari HTML Tangerang. Dengan banyak nya kegiatan pekerjaan dan di luar pekerjaan membuat hobby ku terhenti sementara.

Rasa jenuh akhir nya menghampiri diriku pada saat kegiatan ku semakin membuat pusing isi kepala, akhir nya aku pun mencari hari, tanggal dan bulan yang pas untuk berwisata lagi dengan menggunakan kendaraan roda dua.  Akhir nya kutemukan tanggal dan bulan yang cocok untuk berwisata di nusantara tercinta ini, tempat dan tujuan untuk wisata pun sudah aku tentukan, yaitu wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, tepat nya ke tempat wisata alam pegunungan, mulai dari daerah wisata ketep pass di Magelang Jawa Tengah dan perbukitan menoreh yaitu Puncak Suroloyo dan Wisata Alam Kalibiru wilayah Kulon Progo Yogyakarta.

Karena keterbatasan waktu ku, aku hanya mampu mengunjungi tiga tempat wisata saja. Hmmm…sebenar nya banyak tempat wisata di Jawa Tengah yang belum aku kunjungi, sebenar nya keinganan ku untuk mengunjungi wisata pegunungan Bromo, tapi apa daya cuti ku hanya dua hari ditambah dengan hari libur.  Tapi sudahlah..tidak masalah bagiku ..toh masih banyak tempat yang bagus di wilayah Jawa Tengah, mungkin lain waktu aku akan sampai di Bromo, Bali dan Lombok. Amiiinn

Perjalanan ku dan gaby kali ini di temani oleh istri ku, sebenarnya ini adalah perjalanan kedua dengan istriku, dimana yang pertama perjalanan ke Solo dan Telaga Sarangan di Kabupaten Magetan Jawa Timur tetapi sayang tulisan perjalan ke Solo dan Telaga Sarangan belum sempat aku selesaikan.

Rute berangkat kali ini aku putuskan untuk melewati jalur utara atau di kenal dengan pantura dan rute pulang aku rencanakan melewati  jalur Selatan, kondisi jalan rusak ataupun macet merupakan salah satu resiko dalam perjalanan ku, semua perjalanan pasti penuh rintangan begitu pun dengan hidup kita, jalani saja seperti air mengalir, lho kok….

Rabu, 8 Mei 2013

Seperti biasa sebelum berangkat kami pun direpotkan dengan barang bawaan seperti pakaian, jas hujan, camera pocket, tool kits  dan lain-lain.  GPS pun tidak lupa aku setting untuk tujuan yang tidak aku ketahui rute nya, seperti tempat tujuan yang akan aku singgahi yaitu Puncak Suroloyo dan Wisata Alam Kalibiru.

Peralatan Riding pun aku siapkan semua seperti Helm, protector kaki, sarung tangan, sepatu riding, dan jaket. Untuk riding Kali ini aku dan istri memilih  jaket merk Respiro, dimana jaket ini sangat nyaman untuk riding di siang hari maupun malam hari. Jaket yang saya pakai adalah jaket Respiro Nusantaride Series, sangat nyaman dalam segala cuaca.

Tepat pukul 20.30 kami pun berangkat dari rumah yang berada di  wilayah Cikupa, Tangerang. Dalam perjalanan aku masih sempat ragu lagi untuk lewat jalur utara atau jalur selatan.  Setelah masuk wilayah Serpong Tangerang, akhir nya kuputuskan lewat pantura saja.  Hampir dua jam lebih kami di atas motor dengan lalu lintas Jakarta yang masih terlampu padat dan macet, akhir nya sesampai nya di jalan Raya Pondok Gede Bekasi kami memutuskan untuk berhenti di warung makan tenda, karena rasa lapar menghampiri perut kami setelah ber macet macetan, tepat nya kami berhenti pada pukul 22.53.an

Setelah perut kami sudah merasa nyaman dengan makanan yang kami makan, aku putuskan untuk lanjut perjalanan yang masih teramat panjang. Kupacu si gaby dengan kecepatan 60 – 80 kpj karena lalu lintas masih sangat ramai, apa mungkin esok hari itu hari libur atau tanggal merah jadi mereka masing-masing mempunyai acara untuk jalan-jalan juga dengan teman-teman di area tempat makan atau café-café yang berada di pinggir jalan. Memasuki jalan raya Kalimalang lalu lintas pun masih terlampau ramai dan padat, dan ada pula kecelakaan lalu lintas dimana sebuah mobil sedan menabrak jalan yang sedang di perbaiki di sisi kanan jalan, padahal pihak proyek sudah membuat tanda tapi tetap saja masih di terobos oleh mobil sedan tersebut, mungkin mobil itu melaju dengan kencang, sampai-sampai bemper depan dan kaca nya hancur tidak karuan….ck..ck…ck…ada-ada saja. Kejadian itu membuat aku teringat akan diriku yang sedang dalam perjalanan di atas kendaraan roda dua, aku pun berdoa kepada Allah SWT semoga perjalanan kami di lindungi dan di berikan keselamatan sampai tujuan dan pada saat kembali ke rumah kami.

Kamis, 9 Mei 2013

Tak terasa kami sudah memasuki  Kota Karawang sekitar pukul  00.54,  selepas kota Karawang lalu lintas sudah pun sudah sangat sepi dengan kendaraan, langsung kupacu si Gaby dengan kecepatan 90 – 100 kpj. Senang rasa nya kalau sudah melihat fly over jomin cikampek, rasa nya ingin kupacu lebih cepat si gaby selepas wilayah cikampek.

Memasuki Pamanukan aku langsung berpikir tentang kemacetan, yang tidak tidak jauh kemacetan itu di sebabkan oleh perbaikan jalan, tak lama kami pun sudah memasuki wilayah Losarang dan ternyata benar dugaan ku, terlihat sudah mobil-mobil yang sedang mengantri untuk mendapatkan celah jalan, di sebabkan sisi sebelah kanan jalan sedang di perbaiki maka terjadilah penyempitan jalan yang menyebabkan kemacetan yang cukup panjang, kemacetan kurang lebih 3 sampai 5 KM. Proyek apa ini sebenar nya dari tahun ke tahun tidak pernah jelas, selalu dalam perbaikan terus di wilayah  Kandang Haur, wilayah itu masuk dalam area jalan raya pamanukan.

Pukul 02.16, kami pun berhenti di sebuah SPBU Ciasem untuk beristirahat sejenak sehabis kelelahan dalam menghadapi kemacetan.  Istriku langsung merebahkan tubuh nya ke sebuah bale atau bangku yang ukuran nya sangat lebar yang sudah di sediakan oleh pemilik  warung yang berada di lokasi tersebut, sedang kan aku hanya memesan secangkir kopi panas untuk menghilangkan kantuk dan menghangatkan  badan sementara, Kami hanya beristirahat selama 20 menit.  Jam menunjukkan pukul 02.50 kami pun melanjutkan perjalanan, berharap bisa melaksanakan sholat Shubuh di Indramayu.  Jalan pun sudah mulai lancar dan tidak ada kemacetan lagi, langsung kupacu si gaby dengan kecepatan 80 – 100 kpj.  Udara di pagi hari memang sangat dingin, tetapi terpaan angin membuat ku merasa nyaman karena jacket respiro yang kupakai windproof atau anti angin, di tambah lagi dengan daleman jacket aku memakai inner jacket dari Taichi, tidak khawatir dengan nama nya masuk angin deh…

Si gaby pun melaju dengan gesit nya, bus dan truck di lewati  dengan mulus nya. Tak terasa kumandang Adzan subuh pun terdengar dari balik helm ku, kuputuskan untuk berhenti sejenak untuk melaksanakan kewajiban yang harus di laksanakan.  Akhir nya kami berhenti di sebuah Masjid yang cukup besar yang lokasi nya berada di pinggir jalan raya Losarang Indramayu persis di depan Rumah Sakit Bhayangkara Losarang, kami berhenti pada pukul 04.55 di sini kami beristirahat cukup lama hampir 1 jam karena harus meluruskan pinggang dan memejamkan mata sejenak. Untuk mengisi kekosongan perut kami hanya makan roti yang kami bawa agar perut kami tidak terlalu kosong menjaga agar tidak masuk angin. Tepat pukul  06.00 kami pun beranjak untuk bersiap-siap melanjutkan perjalanan,  dan aku pun sudah merencanakan  berhenti lagi untuk sarapan pagi di wilayah Kalipasung Gebang  Kabupaten Cirebon.

Pukul 07.13 kami memasuki Kota Cirebon aku pun mampir ke sebuah SPBU untuk mengisi bahan bakar, aku isi Rp. 50.000,-  hanya dapat  11,11 liter, per liter Rp.4.500,- . Sempat kepingin berhenti di warung makan Mang Dul yang menjual makanan khas Cirebon yaitu Nasi Jamblang dan Empal Gentong yang lokasi nya dekat dengan sebuah Mall Gerage Cirebon di Jalan Cipto.  Tapi aku urungkan niat untuk tidak ke Mang Dul, karena kami butuh tempat makan yang bernuansa lesehan supaya kaki kami bisa selonjoran dan merebahkan badan.

Tak lama kemudian kami pun sampai di sebuah rumah makan pada pukul 08.26 di Jalan Raya Kanci – Gebang , Babakan, Kalipasung,  yaitu Rumah Makan KALIJAGA, dimana untuk menikmati hidangan nya di sediakan beberapa pilihan tempat, ada yang menggunakan meja makan dan lesehan, kami memilih tempat makan yang lesehan karena bisa lebih santai lagi sehabis makan, dan satu lagi rekomen saya bahwa untuk toilet nya juga bersih. Jika suatu saat anda ingin mampir, ini saya lampirkan  No Telepon 0231-3371826 dan titik koordinat nya  S -6.817928, E 108.711844. Tiga orang pelayan menghampiri kami berdua, yang satu menawarkan menu makanan yang akan di pesan, sedangkan yang dua lagi membersihkan tempat yang akan kami gunakan. Kurang lebih 15 menit makanan pun tiba, langsung kita santap dengan lahap karena sarapan pagi yang tertunda 2 jam.  Selesai menyantap hidangan kami duduk santai dan juga merebahkan tubuh ke sebuah tikar, sambil memejamkan mata sejenak karena rasa kantuk sudah mulai menyerang mata ini, disini Kami beristirahat cukup lama kurang lebih 2 jam.

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-09-09-30-43.jpg

Si Gaby sedang beristirahat

Setelah kami beristirahat cukup lama, perjalanan kami lanjutkan kembali  pada pukul 10.30 karena hari sudah mulai siang.  Mulus nya aspal jalan raya gebang membuat saya tergoda untuk melaju di kecepatan 90 – 110 kpj, terjadi kepadatan di Pasar Gebang karena penyempitan jalan dan sedikit rusak aspal nya di tambah pedagang yang berjualan di pinggir jalan. Selepas Pasar Gebang langsung kupacu si gaby, perbatasan Jawa Barat – Jawa Tengah kulewati, tak lama kemudian aku pun memasuki Kota Brebes, seperti biasa Brebes masih saja menyimpan kemacetan yang di sebabkan oleh penyimpitan jalan karena sedang ada perbaikan sebuah jembatan.

Tepat pukul 12.00 kami tiba di Kota Pemalang dan kami pun berhenti di sebuah Masjid persis di pinggir Jalan Raya Pemalang – Pekalongan untuk istirahat dan melaksanakan kewajiban ibadah sholat dzuhur.

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/fb_img_13680748798836210.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-09-12-00-31.jpg

Setelah kami selesai melaksanakan sholat dzuhur, kami pun melanjutkan perjalanan dengan rest point berikut nya di Alas Roban.

Kurang Lebih 2 jam kami pun sampai di Alas Roban Kabupaten Batang, tepat nya pukul 14.18 kami tiba, kami pun melipir ke sebuah warung yang menjual es kelapa muda, langsung kuparkirkan si gaby dan memesan dua buah kelapa muda di tambah dengan mie instan.

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-09-14-18-32.jpg

Waktu sudah menunjukan pukul 15.00 kami pun segera bergegas untuk melanjut kan perjalanan ke Kota Jogja, supaya sampai tujuan pukul 18.00 kurang lebih nya.  Kali ini aku melewati jalur Weleri Kabupaten Kendal, tetapi sesuatu tejadi pada tangki si gaby tercium aroma bensin, ternyata bocor tangki nya, posisi kiri kanan hanyalah tebing, jurang dan pepohonan tidak ada satupun bengkel, kupacu terus si gaby dengan kecepatan sedang karena posisi indikator bensin sudah hampir habis, tak lama aku menemui sebuah bengkel kecil tetapi hanya untuk menambal ban bocor saja, aku pun berhenti di bengkel tersebut dan meminta tolong kepada pemilik bengkel tersebut untuk menambal tangki si gaby yang bocor, untung saja aku membawa Dexton atau lem khusus besi. Sebenar nya aku ingin menambal sendiri tetapi aku sangat lelah sekali yang akhir nya meminta tolong kepada pemilik bengkel tersebut. Untuk lokasi persis nya kami berada di Desa Pageruyung, Kabupaten Kendal termasuk jalur alternatif Weleri.

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/pageruyung-20130509-00032.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/pageruyung-20130509-00033.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/pageruyung-20130509-00034.jpg

Cukup lama kami menunggu proses pengeringan dari lem besi tersebut, hampir satu jam kami menunggu.  Kami pun melanjutkan perjalanan, tetapi sebelum nya aku isi bensin eceran dahulu sebanyak 2 liter karena tidak ada nya  SPBU di jalur tengah hutan.  Tak lama kira-kira 7  KM terdapat sebuah SPBU,  saya pun langsung membelokkan si gaby untuk mengisi penuh bahan bakar.

Tepat pukul 21.00 kami pun sampai di sebuah  penginapan yang biasa saya kunjungi setiap saya ke Kota Jogja ini. Penginapan ini adalah Hotel Sartika yang berada di Jalan RE. Martadinata No.21, Yogyakarta.,   Nomor telepon nya 0274 377595, yang lokasinya tidak jauh dari jalan malioboro, hanya dengan bayar Rp.10.000 – Rp.15.000,- untuk sampai ke jalan malioboro dengan menaiki kendaraan roda tiga alias Becak.  Setelah selesai urusan administrasi hotel kami pun langsung bersih – bersih, makan malam dan pergi tidur karena esok hari harus melanjutkan perjalanan wisata ke Ketep Pass dan Puncak Suroloyo. Rencana awal kami akan jalan-jalan malam ke Jalan Malioboro tapi apa daya tubuh dan mata sangat lelah akhir nya kami urungkan niat untuk istirahat saja dan di undur esok malam saja untuk jalan-jalan ke Malioboro nya.

Jum’at, 10 Mei 2013

Tepat pukul 05.00 pagi kami pun terbangun untuk melaksanakan ibadah Sholat shubuh, setelah itu kami tidur kembali karena badan masih terasa capek banget dan masih ngantuk juga, he..he..he..

Terbangun lagi sekitar pukul 07.00 dan langsung bergegas untuk mandi, santap pagi dan beres-beres untuk persiapan perjalanan ke tempat wisata Ketep Pass dan Puncak Suroloyo.  Pukul 07.00 kami pun berangkat menuju ketep pass, tetapi sebelum nya saya mampir dahulu ke sebuah bengkel yang berada di wilayah Sleman untuk mengganti oli motor.  Setiba nya di bengkel saya pun mengambil Handphone dari tank bag yang ternyata ada beberapa miss call dan sms dari Om Julianto Sasongko, memberitahu bahwa beliau tidak bisa antar ke Puncak Suroloyo di karenakan masuk kerja dan anak nya sedang sakit, akhir nya aku telpon balik untuk menanyakan jalur yang akan di tempuh untuk menuju Ketep Pass dan Puncak Suroloyo.  Untuk Jalur menuju Puncak Suroloyo tidak masalah bagiku karena sudah saya setting di GPS untuk menuju ke lokasi tersebut, tapi untuk menuju ke lokasi Ketep Pass saya tidak tau menau arah nya, saya pun bertanya kepada pemilik bengkel, kebetulan pemilik bengkel pun sangat hapal dengan jalur nya, saya catat jalur nya di kepala saya dan semoga tidak lupa, karena kali ini saya tidak mengandalkan GPS untuk menuju ke Ketep Pass.

Dari Sleman kami berangkat pukul 08.30 sehabis ganti oli di sebuah bengkel. Motor pun saya laju dengan kecepatan 80-90 kpj di atas jalan Raya Magelang-Yogyakarta, sesampai nya di Jalan Pemuda saya belokan si gaby ke jalan veteran lanjut lagi ke jalan kleko, setelah melewati Pasar Talun, saya ambil arah ke kanan untuk tembus ke jalan raya sawangan. Dalam perjalanan kami melewati sebuah jembatan gantung, saya lupa nama jembatan dan wilayah tersebut, kami pun tidak melewati momen  untuk berfoto – foto di jembatan gantung tersebut.

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100126.jpg

Jalan Raya Talun

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100132.jpg

Pasar Talun

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-10-10-01-46.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-10-10-06-44.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100142.jpg

Tak terasa kami sudah memasuki jalan raya Sawangan, Kabupaten Magelang, kami di suguhi pemandangan puncak gunung merapi yang terlihat sangat jelas, Subhanallah….sungguh indah sekali gunung tersebut jika sedang diam, tapi kalau sudah bergejolak dan menyemburkan awan panas atau pun lahar panas  sangat menakut kan sekali.

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100160.jpg

Obyek Wisata Pegunungan Ketep Pass

Tepat pukul 09.36 kami tiba di lokasi Ketep Pass, kami pun langsung menuju loket masuk guna untuk membeli 2 buah  tiket masuk, dengan harga Rp. 7.300,- per orang, sudah termasuk asuransi dan Rp.2.000 untuk parkir sepeda motor.

Lokasi Ketep Pass berada di puncak Bukit Sawangan, pertengahan antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Ketep Pass berada pada ketinggian 1200 meter dpl dan luas areanya kurang lebih 8000 meter persegi. Ketep pass ini berjarak 21 km dari Mungkid, 17 km dari Desa Blabak ke arah timur, 30 km dari Kota Magelang, 35 km dari Kota Boyolali, dan 30 km dari Candi Borobudur. Dari Kota Salatiga yang berjarak sekitar 32 km, Ketep Pass dapat dicapai melalui Kopeng dan Desa Kaponan. Lokasi obyek wisata Ketep Pass ini mudah dijangkau baik dengan kendaraan roda empat atau sejenisnya  maupun dengan sepeda motor karena medan jalannya yang tidak terlalu sulit untuk dilewati.

Ketep Pass ini memiliki beberapa fungsi,yaitu :

Sebagai sarana dokumentasi. Fungsi ini bisa didapat dari adanya film dokumenter yang diputar di dalam bioskop mini.

Sebagai sarana peragaan. Fungsi ini bisa didapat dari adanya komputer interaktif yang menyimpan data-data tentang Gunung Merapi. Komputer ini tersedia di dalam Volcano Centre.

Sebagai sarana edukasi. Fungsi bisa didapat dari adanya Volcano Centre dan Volcano Theatre.

Sebagai sarana penelitian. Yakni sebagai lokasi pengamatan aktivitas Gunung Merapi.

Sebagai sarana rekreasi. Fungsi ini bisa didapat dari adanya gardu pandang dan pelataran Panca Arga.

Fasilitas yang disediakan di Ketep Pass ini cukup lengkap dan menarik. Fasilitas-fasilitas itu adalah :

Museum Vulkanologi, Di dalamnya berdiri miniatur Gunung Merapi, komputer interaktif yang berisi tentang dokumen kegunungapian, beberapa contoh batu-batuan bukti letusan dari tahun ke tahun, poster puncak Garuda yang berukuran 3x3m, poster peringatan dini lahar Gunung Merapi, dan juga beberapa foto dan poster yang menggambarkan kisah dari aktivitas Gunung Merapi.

Bioskop mini, Bioskop ini memiliki kapasitas tempat duduk yang cukup banyak, yaitu 78 kursi. Bioskop ini menyajikan film berupa sejarah dari Gunung Merapi yang meliputi peristiwa terbentuknya Gunung Merapi, jalur-jalur pendakian,penelitian di puncak Garuda, letusan dahsyat Gunung Merapi, dan berbagai peristiwa yang terjadi dalam rentetan waktu tertentu. Durasi dari film ini cukup pendek, hanya sekitar 25 menit.

Teropong, Jumlah teropong yang ada di Ketep Pass ini adalah dua buah. Masing-masing berada di puncak Panca Arga dan Gardu Pandang.Dengan alat ini, para pengunjung dapat melihat dengan jelas keindahan panorama Gunung Merapi, Merbabu dan gunung-gunung yang lain.

Pelataran Panca Arga, Panca Arga mempunyai arti Lima Gunung. Lokasi ini merupakan puncak tertinggi di Obyek Wisata Ketep Pass. Dari puncak tertinggi ini pengunjung dapat melihat 5 gunung, yaitu Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan Slamet. Selain kelima Gunung tersebut pengunjung juga dapat melihat dan menikmati gunung-gunung kecil dan bukit-bukit yang sangat indah antara lain Gunung Tidar, Gunung Andong, Gunung Pring, Bukit Menoreh, Bukit Telomoyo, dll.

Gardu pandang, Berupa 2 buah gazebo masing-masing dengan ukuran empat persegi panjang dan bangunan segi delapan dengan panjang panjang sisi lima meter. Dari Gardu Padang ini, pengujung dapat melihat keindahan alam Gunung Merapi dan Merbabu, serta hamparan lahan pertanian yang ada di kedua kaki Gunung tersebut.

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100177.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-10-10-21-35.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100182.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100186.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100183.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100187.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100184.jpg

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 11.00 , saat nya kami beranjak dari tempat wisata ini karena saya harus mencari sebuah masjid untuk melaksanakan sholat Jum’at.

Sebuah masjid mungil yang terletak  di Desa Ketep yang suasana nya masih sangat sepi para jama’ah, saya pun segera mengganti pakaian untuk melaksanakan sholat jum’at. Akhir nya sholat Jum’at pun telah tiba waktu nya, di mana sang pembawa kutbah berceramah dengan menggunakan bahasa jawa yang sangat halus, saya hanya bisa meyimak saja karena hanya mengerti  sedikit saja.

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100188.jpg

Sholat Jum’at , masih di wilayah Ketep

Usai sholat jum’at kami pun melanjutkan perjalanan ke tempat wisata Bukit Menoreh tepat nya ke Wisata Pegunungan Puncak Suroloyo di wilayah Kulon Progo, Yogyakarta.  Seperti biasa GPS saya setting untuk ke tempat tujuan dan jalur nya saya pakai atas saran dari Om Julianto Sasongko untuk melewati jalan Raya  Sendang Sono sehabis Candi Mendut belok ke kiri dari arah Magelang.

Tepat pukul 14.52 kami berhenti di sebuah warung makan yang sangat sederhana, karena perut sudah mulai terasa lapar. Makanan dan lauk pauk nya benar-benar apa adanya dan sederhana sekali yang di sajikan buat para tamu-tamu yang mampir ke warung Pak Man ini. Kurang lebih 20 menit kami habiskan waktu di warung makan ini,

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-10-14-52-17.jpg

Makan siang di Warung Pak Man, Jalan Raya Sendang Sono

Selanjut nya kami segera ber gegas untuk   melanjutkan perjalanan menuju Puncak Suroloyo karena waktu sudah hampir menjelang sore di khawatirkan akan turun kabut di Puncak Suroloyo tersebut.  Kupacu si gaby dengan kecepatan 80 – 90  kpj, dengan kondisi jalan sangat mulus dan sepi.  Akhir nya kami pun memasuki Desa Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo dengan sajian jalan yang berkelok kelok dan tanjakan yang sangat curam, dimana kiri kanan nya terdapat jurang yang cukup terjal, di samping itu kami di sajikan pemandangan yang cukup indah dan menajubkan dalam wilayah perbukitan Menoreh ini.

Tiba lah kami di sebuah loket masuk wisata Puncak Suroloyo dan kami pun di sambut oleh seorang penjaga loketyang langsung menyodorkan sebuah ticket tanda masuk.

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100201.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100200.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100202.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100220.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100207.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100239.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p51002151.jpg



https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100276.jpg

Pertigaan menuju Puncak Suroloyo

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100251.jpg

Terlihat Gardu pandang Bukit Suroloyo dan Loket masuk

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100245.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100247.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100252.jpg

Patung Selamat Datang Semar dkk dan Pondok penginapan

Bukit Menoreh – Puncak Suroloyo, Kulon Progo

Titik Koordinat GPS Puncak Suroloyo ada di  S7°38’50.2″ E110°10’48.1″,  untuk retribusi masuk hanya bayar Rp. 2.000,- per orang , dan Rp.1.000,- untuk kendaraan bermotor.

Puncak Suroloyo merupakan bukit tertinggi di kawasan pegunungan Menoreh yakni berada di 1.091 meter diatas permukaan laut  yang terletak di Dusun Keceme, Gerbosari, kecamatan Samigaluh, kabupaten Kulonprogo. Yogyakarta,  Selain memiliki pemandangan yang indah, tempat ini juga memiliki berbagai cerita dan mitos yang cukup kuat. Tidak mengherankan jika suasana mistis sangat terasa jika kita berada di tempat ini.  Dari puncak suroloyo dapat kita saksikan puncak dari Candi Borobudur dan juga Gunung Merapi yang bersanding dengan gunung merbabu demikian juga gunung sumbing yang bersanding dengan sindoro, itupun jika cuaca sedang cerah. Jika anda beruntung dari puncak ini juga dapat menikmati sunset ataupun sunrise yang sangat indah. Tapi sayang saya tidak bisa menikmati kedua nya karena saya harus kembali ke penginapan saya di Kota Yogyakarta, di tempat ini juga di sediakan tempat untuk menginap.

Pertanda anda telah sampai di puncak suroloyo adalah terlihat nya tiga buah gardu pandang yang juga di kenal dengan istilah pertapaan yang masing-masing bernama Suroloyo, Sariloyo dan Kaendran. Suroloyo adalah pertapaan yang pertama kali di jumpai bisa dijangkau dengan berjalan kaki menaiki 286 anak tangga.

Sangat di sayangkan saya hanya membawa kamera pocket saja yang jarak pengambilan gambar nya terbatas dan juga kabut pun sudah mulai menutupi pemandangan yang indah itu, sangat di sayang kan juga momen seperti ini hanya terlewatkan begitu saja, padahal saya sudah berjuang untuk sampai di puncak suroloyo ini, dengan menaiki anak tangga yang berjumlah 286 anak tangga, diatas puncak suroloyo juga terdapat peninggalan sebuah arca, konon arca ini  adalah buatan sang petapa. Pertapaan Suroloyo merupakan yang paling legendaris. Menurut cerita dari warga sekitar di pertapaan inilah Raden Mas Rangsang yang kemudian bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo untuk menjalankan wangsit yang datang pada nya.

Kabut pun sudah mulai menyelimuti Puncak Suroloyo dan udara pun sudah terasa dingin sekali, kami segera beranjak turun menuju ke parkiran motor yang persis berada di bawah tangga naik. Kami segera bergegas untuk segera balik ke penginapan di Yogyakarta, di takutkan di tengah perjalan ke jebak kabut tebal, karena waktu sudah menunjukan pukul  17.10. Suatu saat nanti saya akan kembali ke sini, karena masih penasaran dengan keindahan nya, dan juga masih banyak tempat yang belum saya kunjungi karena keterbatasan waktu.

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100257.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100259.jpg

Istirahat sejenak, kaki sudah terasa pegal

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100268.jpg

Gardu Pandang Suroloyo

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100264.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100262.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100274.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100271.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100258.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100269.jpghttps://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-10-15-52-42.jpg


Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna

Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila

Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu …

Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati


Diatas adalah sebuah lirik lagu yang  berjudul Yogyakarta yang di bawakan oleh grup musik KLA Project, yang mana lirik lagu tersebut tiada pernah bosan untuk di dengar di telinga ku ini. Lagu ini menghanyut kan suasana ku ketika aku sedang ber aktivatas  dengan kesibukan pekerjaan di kantor dan membuat ku ingin selalu kembali ke Kota Yogya.

*****

Tepat pukul 18.20 kami pun sampai di penginapan tempat kami bermalam. Kami pun istirahat sejenak dan setelah itu bersihkan seluruh tubuh, karena kami akan santap malam di jalan Malioboro sekalian melihat keramaian Kota Yogyakarta di malam hari.Sebenar nya saya sudah tiga kali mengunjungi Kota Yogyakarta tapi tidak pernah membosankan, karena suasana yang bikin saya ingin kembali dan tempat-tempat wisata nya pun banyak yang belum saya kunjungi.

Untuk menuju ke Malioboro saya dan istri menggunakan jasa sebuah becak, untuk sementara motor saya titip di penginapan saja karena sudah seharian si gaby menemani kami.  Kurang lebih  10 menit kami pun sampai ke Jalan Raya Malioboro, kami pun di sambut dengan beberapa sajian khas Malioboro seperti musisi jalanan yang memainkan musik nya, pedagang kaki lima yang menjual beberapa souvenir  dan  makanan khas jogja dan juga tempat-tempat bersejarah yang berada di sekitar nya, sungguh luar biasa suasana yang rasakan ini dan berguna untuk menghilangkan sejenak masalah-masalah yang ada di benak ku ini.

Dua jam sudah kami menikmati suasana di jalan Malioboro dan menikmati beberapa kuliner khas jogja, akhir nya kami pun kembali ke penginapan, karena mata dan tubuh kami sudah terasa sangat lelah sekali dan sangat butuh istirahat untuk melanjutkan perjalanan ke Wisata Pegunungan Kalibiru, Kulon Progo ke esokan hari nya.

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/p5100285.jpg

Tugu Jogja

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-10-22-51-00.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-10-20-40-12.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-10-20-39-28.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-10-22-24-52.jpg

Jalan Raya Malioboro

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-10-22-33-36.jpg

Pedagang Kaki Lima

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-10-20-51-25.jpg

Musisi Jalanan

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-10-22-36-11.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-10-22-42-06.jpg

Benteng Vredeburg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-10-23-02-14.jpg

Sabtu, 11 Mei 2013

Pukul  05.00  aku terbangun dari tidur ku, langsung ku pergi ke toilet untuk mengambil wudhu dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Rencana hari ini kami berkemas untuk kembali pulang ke rumah di Tangerang, tetapi sebelum nya saya akan ber wisata dahulu ke Bukit Menoreh lagi, tetapi kali ini dengan tempat yang berbeda  yang lokasi nya di tempat wisata Pegunungan Kalibiru di Desa Hargowilis  masih di wilayah Kabupaten Kulon Progo.

Seperti biasa sebelum  berangkat saya setting GPS dan memasukan titik koordinat Kalibiru, titik koordinat ini saya dapat kan dari Google Maps, karena saya tidak tau menau sama sekali tempat wisata ini.  Tepat pukul 08.30 kami meninggalkan penginapan di Kota Jogja, entah kapan lagi saya  akan kembali ke kota ini, tapi pasti saya akan kembali lagi, see you Yogyakarta…miss you Jogja…..

Untuk menuju ke Wisata Desa Kalibiru, saya mengambil rute lewat Jalan Raya Wates, dan saya hanya butuh waktu kurang lebih  90 menit dari Kota Yogya untuk sampai ke lokasi.  Beberapa perkampungan dan pedesaan kami lewati  yang pada akhir  nya kami memasuki wilayah Desa Hargowilis  yang mana jalan nya ber kelak kelok  dan kiri kanan nya berupa jurang dan tebing, jalan untuk menuju Dusun Kalibiru sangat sempit sekali hanya cukup untuk satu  kendaraan roda empat saja dan suasana sangat sepi karena wilayah nya masih berupa hutan lindung  atapun suaka margasatwa. Tak terasa kami pun sampai ke lokasi, kuparkirkan motor ku ke tempat yang sudah di sediakan oleh petugas. Penduduk sekitar sangat ramah, santun dan komunikatif.

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-11-10-58-22.jpg


https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-11-11-07-31.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-11-11-11-05.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/photo-0031.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/photo-0037.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/photo-0034.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/photo-0012.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/photo-0035.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/photo-0053.jpg

Area parkir & jalan menuju area Kalibiru

Bukit Menoreh – Obyek Wisata Kalibiru, Kulon Progo

 Kalibiru adalah obyek wisata yang letaknya cukup dekat dengan kota Yogyakarta. Obyek wisata ini sangat menarik, tapi sayangnya belum banyak dikenal oleh masyarakat. Kalibiru masuk dalam kategori Wisata Alam. Obyek wisata ini merupakan hutan wisata, yang terletak di perbukitan Menoreh, yang masuk dalam wilayah Kulonprogo, tepat nya di Dusun Kalibiru, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, dengan titik koordinat GPS  -7.807432,  110.12814.   Obyek Wisata Kalibiru berjarak  kurang lebih 10 km dari Kota Wates. Sedangkan dari Kota Yogyakarta Kalibiru berjarak kurang lebih  40 km.

Dulunya, tempat tersebut  adalah hutan milik negara yang kondisinya memprihatinkan. Tapi kemudian, masyarakat berinisiatif untuk membuat hutan tersebut hijau dan subur. Kalibiru memang belum lama diresmikan sebagai obyek wisata. Ijin untuk memanfaatkan hutan milik negara ini keluar pada tahun 2008. Informasi ini saya dapat dari Bapak Sudadi yang mana beliau sebagai kepala Tani di wilayah nya dan meminta saya untuk mempromosikan Obyek Wisata Kalibiru.

Kalibiru terbentang 450 meter diatas permukaan laut. Jika cuaca cerah, dari balik hutan Kalibiru kita dapat melempar pandangan  sampai gunung Merapi, pantai selatan, dan Waduk Sermo. Karena berada di perbukitan yang cukup tinggi, Kalibiru sejuk dan udaranya jernih tanpa polusi. Tentu hal ini menjadi nilai lebih bagi pengunjung yang berasal dari perkotaan yang sehari-hari menghirup udara kota yang kotor. Selain bentang alamnya yang indah oleh paduan hutan yang hijau dan perbukitan, sosial budaya masyarakat sekitar Kalibiru juga menjadi daya tarik. Masyarakat sekitar dikenal ramah, santun, memiliki rasa kekeluargaan, dan senang gotong royong. Selain itu, masyarakat Kalibiru juga mempertahankan beraneka ragam seni budaya tradisional, sehingga mampu menghadirkan eksotisme yang khas bagi pengunjung.

Kalibiru termasuk obyek wisata yang terkelola dengan baik. Jadi, disana, terdapat beragam fasilitas bagi para pengunjung. Di Kalibiru terdapat areal parkir yang memadai, kios-kios penjual makanan, mushola, dan kamar mandi untuk umum. Pemandangan yang indah yang dapat dilihat dari gardu pandang bukanlah satu-satunya hal yang dapat dinikmati di obyek wisata ini. Di Kalibiru para pengunjung dapat melakukan berbagai aktivitas yang menarik, seperti mencoba flying fox yang tersedia untuk anak-anak dan orang dewasa, mengunjungi perpustakaan yang memiliki koleksi buku tentang pertanian dan kehutanan yang lengkap, atau melakukan outbound. Bahkan, di obyek wisata ini terdapat sebuah ruang pertemuan berbentuk  joglo. Jadi, perusahaan ataupun organisasi dapat mengadakan pertemuan disana, sembari bersantai dan menjalin keakraban diantara para anggotanya

Kalibiru cukup mudah untuk ditemukan karena jalan yang menuju kesana tidak membingungkan. Anda tinggal mengikuti jalan yang menuju ke arah kota Wates. Anda bisa melewati jalan  Wates, atau jalan Godean.  Kemudian, dari kota Wates, Anda tinggal mengikuti jalan yang menuju ke Waduk Sermo, dan Anda akan menemukan papan penunjuk arah ke Kalibiru. Sebaiknya Anda memakai kendaraan pribadi saja. Sebenarnya ada kendaraan umum yang menuju kesana, tapi tidak praktis karena Anda harus berganti kendaraan umum beberapa kali.

Di Kalibiru tersedia berbagai paket wisata, diantaranya wisata perdesaan, budaya, pendidikan, keluarga, terapi alam, dan lain-lain. Untuk masuk ke hutan wisata Kalibiru, pengunjung harus membayar retribusi sebesar Rp. 2000,- Dan untuk menikmati desir adrenalin di lintasan flying fox, pengunjung dikenakan biaya Rp 10.000,- untuk dewasa dan Rp. 5.000,- untuk anak-anak.

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-11-11-27-21.jpg

Jalan masuk menuju loket

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-11-11-35-46.jpg

Pohon Kayu Putih

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-11-11-35-20.jpg

Tampak terlihat jelas Waduk Sermo dari Gardu Pandang Batu Chris Bernet

Tampak terlihat jelas Waduk Sermo dari Gardu Pandang Batu Christ Bennet

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-11-11-44-26.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-11-11-48-33.jpg

Batu Christ Bennet

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/photo-0047.jpg

Flying Fox

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-11-11-47-48.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-11-11-47-23.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/pengasih-20130511-00036.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/pengasih-20130511-00037.jpg

Sayang nya foto-foto yang saya ambil hanya menggunakan handphone, karena foto pocket charger nya nya ketinggalan di rumah tidak terbawa, sayang sekali, harus balik lagi Kalibiru dan Puncak Suroloyo nih…..hmmm…tapi kapan ya ….???      Harus  atur jadwal lagi nih……semangat…!!!

Kurang lebih 2 jam lebih kami berada di Kalibiru ini dan tepat pukul  13.28 kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Tangerang.  Tiba nya di jalan raya Wates kami pun mampir ke sebuah Rumah makan, karena rasa lapar menyerang dengan dasyat nya…..hehehehehehe…

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-11-15-01-30.jpg

Setelah santap siang kami melanjutkan perjalanan melewati jalur selatan Jawa Tengah, kupacu gaby dengan kecepatan 90 – 100 kpj.  Selama 2 jam lebih akhir nya kami sampai di Kota Kebumen dan istri meminta saya untuk mencari penginapan karena kelelahan dan memutuskan perjalanan di lanjut kan esok pagi.  Beberapa lama kemudian kami pun menemukan sebuah penginapan yaitu di Hotel Candisari. Tepat pukul 17.55 kami memasuki hotel.

Apabila anda dalam perjalanan melalui jalur selatan Jawa Tengah, dapat bermalam di Hotel Candisari. Lokasi hotel ini berada disebelah timur kota Karanganyar (sebelah timur kota Kebumen).  Hotel ini cukup baik untuk bermalam dan melepaskan kepenatan dalam perjalanan. Disekitar hotel tersedia rumah makan Candisari, wartel dan SPBU.
HOTEL CANDISARI

Titik Koordinat :  7.64421,  109.58126
Jl. Raya Karanganyar Timur Km.2, Karanganyar, Kebumen
Telp. 0287 551336 , 551337
Fax. 0287 551339
Fasilitas : Kamar VIP & Standar, Restaurant / Rumah Makan, Karaoke/Diskotik, Wartel, Pompa bensin,

Untuk tariff nya sekitar Rp.100.000 sampai dengan Rp. 300.000,-

Setelah santap siang kami melanjutkan perjalanan melewati jalur selatan Jawa Tengah, kupacu gaby dengan kecepatan 90 – 100 kpj.  Selama 2 jam lebih akhir nya kami sampai di Kota Kebumen dan istri meminta saya untuk mencari penginapan karena kelelahan dan memutuskan perjalanan di lanjut kan esok pagi.  Beberapa lama kemudian kami pun menemukan sebuah penginapan yaitu di Hotel Candisari.

Apabila anda dalam perjalanan melalui jalur selatan Jawa Tengah, dapat bermalam di Hotel Candisari. Lokasi hotel ini berada disebelah timur kota Karanganyar (sebelah timur kota Kebumen).  Hotel ini cukup baik untuk bermalam dan melepaskan kepenatan dalam perjalanan. Disekitar hotel tersedia rumah makan Candisari, wartel dan SPBU.
HOTEL CANDISARI

Titik Koordinat :  7.64421,  109.58126
Jl. Raya Karanganyar Timur Km.2, Karanganyar, Kebumen
Telp. 0287 551336 , 551337
Fax. 0287 551339
Fasilitas : Kamar VIP & Standar, Restaurant / Rumah Makan, Karaoke/Diskotik, Wartel, Pompa bensin,

Untuk tariff nya sekitar Rp.100.000 sampai dengan Rp. 300.000,-

Minggu, 12 Mei 2013

 

Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 kami bersiap-siap untuk melanjutkan perjalan pulang, tetapi kami menunggu teman yaitu Pak Deden, yang mana beliau habis berlibur dari Kota Yogya juga, kebetulan posisi nya sudah berada di kebumen. Tak lama kemudian Pak Deden pun telah tiba dan menunggu di area parker Resto Candisari, saya pun langsung meghampiri Pak Deden dan sekalian mampir ke SPBU untuk mengisi penuh bahan bakar si Gaby.

Sekitar pukul 07.30 kami pun meninggalkan Hotel Candisari, dengan suasana jalan raya masih teramat sepi oleh kendaraan,  Kupacu si Gaby dengan kecepatan 90-100 km. Sesampai nya di Kota Banyumas kami pun berhenti untuk membeli beberapa oleh-oleh khas Banyumas yaitu Getuk Goreng.

Oleh-oleh pun sudah di kemas dengan rapih, saat nya kami melanjutkan perjalanan. Beberapa Kota, kecamatan dan kabupaten kami lewati dengan lancer.   Dua jam lebih kami riding, akhir nya ku putus kan untuk berhenti di wilayah Wangon sambil menikmati es kelapa muda. Selanjut nya kami juga berhenti untuk makan siang di Rumah Makan Mergosari di jalan raya Banjar – Majenang, sekitar pukul 13.10 kami berhenti dan istirahat.

Tepat pukul  13.55 kami melanjutkan perjalanan kembali, seperti biasa beberapa kota, kecamatan dan kabupaten kami lewati dengan lancar. Singkat perjalanan kami pun sampai di Rest Area Kampung Nagreg pada pukul  16.35, di tempat ini beristirahat dan melaksanakan sholat ashar yang sudah kesorean, setelah itu kami memesan mie rebus karena perut  terasa sangat lapar.

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-12-16-35-38.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/2013-05-12-16-34-37.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/cicalengka-20130512-00039.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/cicalengka-20130512-00041.jpg

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/cicalengka-20130512-00042.jpg

Setelah rehat yang cukup, kita pun lanjut untuk perjalanan pulang, sesampai nya di jalan raya Bandung – Rancaekek terjadi kemacetan kurang lebih 5 km, yang di sebabkan oleh perbaikan jalan. Akhir nya saya memutuskan untuk berhenti di sebuah masjid Al masoem sekalian menjalankan ibadah sholat magrib dan Isya, karena kemacetan masih berlangsung tiada sepi.

Tepat pukul 20.00 akhir nya pun melanjutkan perjalanan, wilayah demi wilayah kami lewati dengan lancar, tak terasa kami pun sampai di Kota Cianjur dan seperti biasa saya mampir ke rumah makan pribumi  yang menyediakan makanan khas bubur ayam cianjur, tepat pukul 22.05 kami berhenti di rumah makan pribumi.  Dengan menyantap bubur ayam di tambah dengan kopi hangat sangat nikmat di cuaca yang begitu sedikit dingin.

https://pramudyairawan.files.wordpress.com/2013/05/img-20130512-00044.jpg

 

Alhamdulilah tepat pukul 03.15 kami pun sampai di tempat kediaman kami di Cikupa, Tangerang, tidak kurang satu apapun. Terima kasih banyak buat semua pihak yang telah men support kegiatan wisata saya ini. Sampai jumpa di cerita perjalanan saya  selanjut nya. See you……

Thanks for :

1.       Allah SWT  & Rosul Nya Nabi Muhammad SAW, yang sudah memperlancar semua urusan saya.

2.        Orang Tua & mertua tercinta yang sudah mendukung kegiatan kami.

3.       Anak tercinta Zacky & Qanita atas doa nya.

4.       Untuk  teman-teman di Forum www.nusantaride.com

5.       Untuk sahabat-sahabat saya yang selalu mendoakan kami di dalam perjalanan via dunia maya.

6.       Untuk orang-orang yang bertemu di dalam perjalanan maupun di tempat wisata yang sudah baik hati menyediakan waktu nya untuk menunjukan jalan maupun yang menjadi teman ngobrol saya .

Categories: Adventure on 2012 | 10 Komentar
 
 

Ride ‘n Back to Nature

Rencana yang tertunda akhir nya ter realisasikan juga, yaitu berwisata berkendara dan mendirikan tenda di Bumi perkemahan Sukamantri yang terletak di Desa Taman Sari, Ciapus, Bogor. Dengan titik koordinat 6 ° 40’33.10″S 106 ° 45’03.68″T. Saya dan teman-teman satu komunitas akhir nya membuat keputusan untuk menentukan hari dan tanggal keberangkatan. Berkat support dari Mang Dadi sekaligus PIC, akhirnya diadakan komunikasi melalui beberapa media untuk saling berkoordinasi mengenai peralatan dan kelengkapan berkemah. List peserta pun sudah terisi semua, yang di ikuti oleh 12 motor, yang terdiri dari Mang Dadi, Pey, Ivan, Achun, Wahyu kiper, Sopian, Pak de Paryat, Pak Agus Tile, Ucon, Mbah Tono, Mas Tri agung dan saya sendiri . Rencana nya saya dan teman-teman hanya sebentar saja di sana, berangkat sabtu siang dan pulang nya minggu pagi, pada tanggal 22 – 23 September 2012.

Sabtu, 22 September 2012

Jam 07.00 si gaby pun saya parkir ke halaman rumah untuk di pasangkan beberapa peralatan riding, sangat repot dan banyak bawaan barang nya sampai-sampai side box over load dan bingung mau taruh dimana lagi tuh barang, saya pun tidak kehabisan akal untuk menata barang bawaan., dari mulai peralatan camping, logistik dan  toolkits seadanya, tidak lupa GPS pun di pasang untuk menemani di waktu riding. Tidak terasa dua jam sudah packing motor, sungguh sangat repot sekali.

Si Gaby siyap meluncur

Jam 12.30 riding pun di mulai menuju ke parung, target jam 02.00 sudah sampai sana, karena saya sudah janjian dengan Mas Tri Agung di sana. Sedangkan Kloter pertama yang terdiri dari Ivan, Lutson, Mbah Tono dan Jonar, mereka sudah berangkat dari jam 09.30 menuju ke Depok untuk menghadiri undangan acara Ulang Tahun DETIC ( Depok Tiger Club ). Sedangkan Kloter nya Mang Dadi dan Achun sudah jalan pada jam 01.30.

Sedangkan saya sendiri ambil rute PLP Curug – Pagedangan – Cisauk – Pasar Serpong Lama – Ciseeng . Rute ini sangat kurang nyaman untuk di lalui saat riding, karena dari mulai Jalan Raya PLP Curug sampai dengan Jalan Raya Cisauk hampir semua jalan nya rusak parah dan banyak perbaikan sana sini, sudah begitu ramai dengan mobil Truck pengangkut pasir ditambah dengan debu yang sangat mengganggu kenyamanan saat riding dan macet pula.

Setelah memasuki jalan raya serpong saya merasa tenggorokan sangat kering sekali, sudah saat nya harus dibahasi dengan air, di tambah dengan sinar matahari yang pas berada di atas kepala. Saya pun langsung mencari tempat untuk berhenti untuk membeli air mineral, akhir nya saya pun berhenti di sebuah Toko Swalayan yang lokasi tidak jauh dari Pasar Serpong Lama dan Stasiun Serpong untuk membeli beberapa barang yang di perlukan. Saya berhenti tepat jam 13.30.

Rehat sejenak

Setelah istirahat selama 15 menit, saya pun langsung melanjutkan perjalanan menuju parung, dimana saya dan Mas Tri Agung bertemu disana.  Saya melaju dengan kecepatan 80 – 90 Kpj untuk menuju Jalan Raya Ciseeng. Tak lama kemudian saya memasuki Jalan Raya Parung-Bogor, saya pun langsung mencari tempat yang nyaman untuk menunggu kedatangan Mas Tri. Pertama saya memilih di Perumahan Telaga Kahuripan, tetapi saya urungkan niat untuk menunggu di situ karena tempat nya tidak sesuai dengan keinginan saya dan tidak nyaman, karena posisi pas banget pinggir jalan raya. Saya pun terus maju beberapa meter akhir nya ketemu sebuah SPBU 34-16303, dan di dalam SPBU tersebut terdapat Restoran cepat saji, pikir saya ini tempat sangat cocok untuk menunggu, dan aku pun langsung memakirkan si gaby. Selama saya menunggu kedatangan Mas Tri, saya memesan Hot Cappucino untuk menemani saya, karena menunggu adalah kegiatan yang sangat membosankan.

Hot Cappucino menemani ku

Tidak lama kemudian Mas Tri pun muncul dengan si Grey nya, saya hanya menunggu salama 20 menit saja, itu sudah termasuk cepat. Kami mengobrol sebentar, terkadang kubuka Latitude untuk melihat posisi Mang Dadi, ternyata posisi tidak jauh dari kami, dan feeling saya bakalan ktemu nanti di jalan. Akhir nya kami pun bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan, ketika posisi kami berada di pintu keluar SPBU saya melihat Mang Dadi lewat bersama Achun, nah benar saja tebakan saya pas banget waktu nya. Kami pun akhir nya bergabung untuk riding bareng, total jadi 4 motor.  Memasuki Wilayah Semplak  kami terjebak dengan kepadatan kendaraan, di karenakan kondisi jalan hanya bisa dua mobil saja.  Tiba-tiba saja Mang Dadi berhenti di pertigaan jalan, karena bingung jalur mana yang akan di ambil untuk menuju ke Ciapus, akhir nya saya pun berinisiatif untuk maju ke barisan paling depan, karena hanya saya yang membawa GPS. Nah…disini saya lupa untuk setting GPS ke settingan normal, karena GPS saya masih setting dalam posisi ” Menghindari Jalan Raya “,  Alhasil beberapa kali kami di buat bingung, karena memasuki jalur yang tidak semestinya di  lewati oleh roda dua, akhir nya kami mengambil jalur jalan raya setelah beberapa kali bertanya kepada penduduk setempat. Saya pun sempat bertanya dengan anak ABG, dan hasil nya malah membuat kami semua bingung karena tidak menemukan tempat tujuan yang kami maksud. Akhirnya kami pun berbalik arah kembali, setelah bertanya kembali ke seorang pemuda yang sedang duduk santai.

Tak lama kemudian kami pun sampai di pemukiman Desa Taman Sari dan menemui penunjuk arah Bumi Perkemahan  Sukamantri, dengan kondisi jalan yang sedang di perbaiki, tak lama menjumpai Pos dan sebuah Wisma yang posisi nya di halangi sebuah portal.  Kamu pun sempat ragu, apakah ini jalan menuju ke tempat tujuan ?? untung saja ada seorang Bapak yang langsung menyuruh kami masuk melewati samping portal yang ada celah sedikit untuk motor.

Tak lama kondisi jalan pun berubah menjadi bebatuan dan semakin lama semakin menanjak, dengan modal skill yang seadanya kami pun terus berusaha mengimbangi kondisi jalan tersebut yang terkadang sedikit kehilangan keseimbangan akibat melindasi batu-batu yang lumayan besar. Gapura Kujang Raider pun sudah terlihat, kami pun langsung menepi untuk  mengambil gambar dekat gapura tersebut. klik…klik..klik….foto pun langsung jadi…

Me

Mang Dadi

Selesai berfoto kami pun langsung melanjutkan perjalanan yang lumayan bikin kampas kopling menjerit karena kondisi jalanan yang menanjak dan berbatu, perjuangan yang sungguh melelahkan.  Akhir nya kami pun sampai di pos kedua yang di tandai dengan gapura selamat datang, setelah melewati gapura tersebut terlihat ada penampakan seorang pemuda dengan perawakan yang cukup bongsor, ternyata di lihat dengan seksama dan di terawang dia adalah seorang pemuda yang kesepian setelah menunggu sekian lama di tempat tersebut, dari jam 12 siang dia sudah tiba di tempat tersebut dan hanya di temani oleh ibu-ibu penunggu warung,  pemuda itu mempunyai nama Ferry Handoko alias Pey, ya itulah nama panggilan ke sayangan nya. Kami istirahat sejenak, sekalian menentukan tempat untuk mendirikan tenda.

Pey dan Mang Dadi pun keliling untuk survey tempat mendirikan tenda. Ada tempat yang bagus tetapi letak nya sedikit naik ke atas, kami pun mendapatkan info kalau di atas sedang terjadi badai petir. Akhir nya kami pun memutuskan tempat yang berada di bawah saja, tapi bagaimana cara untuk menurunkan motor, karena posisi turunan sangat curam sekali, bagi kami tidak masalah karena sudah mempunyai skill masing-masing yang apa ada nya….hehehe..

Mas Tri agung yang mencoba terlebih dahulu untuk menuruni motor nya, melewati turunan yang sudah di buat seperti anak tangga, dan berhasil sampai di bawah.  Kemudian di susul dengan Mang Dadi dengan jalur yang sama, tetapi kali ini motor nya tersangkut gundukan anak tangga tersebut dan motor pun terjatuh, akhir nya di bantu oleh Pey untuk mengangkat motor nya. Saya pun menyusul dengan jalur yang berbeda tidak melewati anak tangga, tetapi melewati rerumputan yang lumayan licin dan berhasil sampai dibawah, kemudian di susul Pey dan Achun . Tidak lama kemudian rombongan Ivan datang yang terdiri dari Mbah Tono, Lutson dan Jonar, mereka pun langsung menuruni motor masing-masing, kecuali Jonar.

Tidak terasa waktu begitu cepat sudah memasuki waktu magrib dan gelap pun menutupi area Bumi Perkemahan Sukamantri, kami mempersiapkan peralatan memasak, chef Lutson pun sudah siap memasak nasi.  Sedang asyik nya masak memasak, tiba-tiba saja langit meneteskan air secara perlahan, tetapi lama kelamaan tetesan itu menjadi banyak, alhasil  kami pun berlarian  menuju tenda masing-masing.  Masak pun akhir nya di tunda karena turun hujan. Sambil menunggu hujan di dalam tenda kami pun hanya di temani kopi hitam dan ber bincang-bincang, saling saut sautan dari tenda ke tenda. Tak lama kemudian datang lah dua motor lagi yang di tunggangi dua aki-aki genit yaitu Pak De Paryat dan Om Agus Tile. Mereka mau mencoba menuruni motor nya tetapi kami melarang nya karena kondisi nya sangat licin dan berbahaya, akhir nya motor pun di parkirkan di atas. Jonar berpamitan untuk pulang duluan karena besok ada aktifitas yang harus di jalani. Dengan kondisi hujan dan berkabut di tambah gelap nya malam di tengah hutan  Jonar nekat juga, saluuuuttt…..hati-hati sob…

Ride n Back to nature

Suasana sebelum turun hujan

Ciluk baaaa…

Ngopi time….

Suasana nya bikin kangen

Sedang asyik nya berbincang-bincang di dalam tenda, tiba-tiba saja handphone nya Ivan berbunyi, ternyata yang menghubungi Sopian dan memberitahukan bahwa motor nya sedang ada masalah dengan kopling nya. Ternyata Wahyu Kiper dan Sopian posisi nya hampir sampai ke tempat kami, posisi mogok berada di bawah dan sudah melewati gapura Kujang Raider. Kami akan menyusul mereka setelah hujan sudah redah tetapi dengan jalan kaki.  Apa…?? hadeuuuhh….bayangkan coba, kondisi habis hujan di tambah gelap nya bukan main, di selimuti kabut tebal di tengah hutan pula, hadeuuuhhh……

Hujan pun redah, saya dan Ivan langsung menuju ke atas untuk memesan kayu bakar dengan mahar Rp. 50.000,- sudah dapet seiket dan besar-besar kayu nya, karena suasana makin mencekam..eh, maksud nya udara semakin dingin sehabis di guyur hujan di tambah kabut tebal. Kayu bakar pun sudah tiba, di mulai lah acara  bakar membakar kayu, supaya suasana nya menjadi hangat.

Awas kesamber api Sob…

Suasana pun menjadi hangat

Back to nature

Setelah selesai acara bakar membakar kayu, kami pun menyusul teman kami yang  sedang dalam masalah dengan motor nya, kami menyusul dengan berjalan kaki dan bermodal kan hanya dua senter, hadeeuuhhh…

Sedangkan yang menunggu di tenda hanya Mbah Tono, Achun dan Pey, nah…di sini lah si pey menemukan jodoh di tenda….hahahahahaha…..hiiiiii,,,jadi merinding…..

Sebelum saya bercerita tentang pengalaman Pey di tenda dan teriakan malam yang di dengar sama Ivan, saya bercerita yang bermasalah dengan motor nya yang mogok di tengah hutan dulu yak. Kami berjalanan di dalam gelap dengan langkah yang sangat ter buru- buru dan terkadang kaki kesandung di bebatuan yang lumayan besar-besar, dengan bermodal kan dua senter saja. Singkat cerita akhir nya kami pun sampai ke TKP. Setelah di cek  ternyata kampas kopling nya habis, wasalam….bagaimana ini…??

Kami pun berdikusi sejenak untuk mencari jalan keluar nya, karena kondisi motor harus masuk bengkel, dan kalau di bawa ke atas siapa yang mau dorong..?? wah…bisa gempor kalo dorong…biar pun beramai – ramai nge dorong nya.  Akhir nya kami semua memutuskan kalau motor di titip kan di Pos jaga yang berada di bawah untuk di titipkan.  Kami pun kembali ke tenda dengan kondisi jalan yang menaik, hadeuuuhhh….alhasil kaki saya pun berasa pegal sekali.

Menuju TKP

Tuh liat….gelap kan….

Di TKP kita pun berdiskusi

suasana sekitar nya bikin merinding

Nah, saya akan cerita yang di alami Pey selama kami tinggal di tenda sendirian.  Seperti biasa Pey memainkan Handphone nya karena hanya handphone itulah yang bisa menemani nya, sedang kan Mbah Tono dan Achun sepertinya sedang istirahat di tenda yang besar. Selama di dalem tenda si pey berasa ada yang aneh, ada sosok perempuan yang masuk kedalam tenda dan langsung menemani nya duduk di depan nya, tetapi si Pey pura-pura tidak menghiraukan kehadiran nya, sembari memainkan handphone nya tetapi perempuan misterius itu tidak beranjak dari tempat nya, sempat keluar tapi balik lagi ke tenda. Sosok perempuan itu memang cantik tetapi muka nya pucat. Sampai-sampai si Pey tertidur sekitar 5 menit, hmmm…saya rasa bukan tidur tuh…mungkin pingsan kali yak….hahahahahahahah….

Sekembali nya ke tenda kami pun meneruskan acara masak memasak nya, tetapi chef Lutson tertidur di tenda, katanya masuk angin dan kepala pusing-pusing, mungkin akibat ngomong sembarangan kali yak..atau ke letihan abis dorong motor. Akhir nya masak memasak di ambil alih oleh Chef Ivan dengan resep apa ada nya, kali ini menu nya Nasi Liwet Ikan Peda di tambah dengan aroma pedas nya,  dengan lauk Pepes Ikan Peda.  hmmmm…yummiii…..

Setelah menyantap makan malam, acara berikut nya adalah pembagian NRA ( Nomor Registrasi Anggota ) untuk member yang sudah memenuhi persyaratan, kali ini yang ikut hanya Lutson dan Wahyu kiper,

Categories: Adventure on 2012 | Tinggalkan komentar
 
 

Ride To Sawarna

Bermula dari obrolan dengan teman-teman satu hobby yaitu wisata dengan kendaraan roda dua atau berpetualang mencari jalan tembus untuk mencapai tempat tujuan.  Akhir nya kami putuskan untuk mengunjungi tempat wisata pantai tepat nya di Pantai Sawarna yang terletak di desa Sawarna, Bayah Banten itulah tempat tujuan yang akan kami kunjungi.

Hari dan tanggal sudah kami tentukan untuk melakukan perjalanan ke tempat wisata yang telah kami tentukan titik koordinat nya.

Seperti biasa sebelum melakukan perjalan saya pun tidak lupa membuat rute perjalanan dengan bantuan Google maps untuk mencari jalan tembus untuk mencapai tempat tujuan, bukan berarti jalan tembus itu akan lebih cepat dari jalan utama justru akan lebih lama dari jalan utama karena menghindari jalan raya atau jalan utama. Kenapa jalan tembus itu lebih lama, karena kondisi jalan nya kita tidak tahu jalan itu mulus atau sebalik nya alias banyak lubang, hancur atau offroad, tergantung dari kondisi jalan nya. Belum lagi melewati jalan yang berkelak kelok dan melewati hutan dengan kondisi jalan yang sempit, nah di situlah petualangan berkendara kita akan lebih berasa untuk menjelajah suatu daerah yang sama sekali belum pernah kita lewati, di tambah lagi dengan tidak ada nya SPBU yg ada hanya SPBU eceran dengan harga di atas standar, tidak adanya toilet umum yang ada hanya pohon-pohon  besar, apalagi warung makan sangat sulit sekali untuk di jumpai yang ada hanya warung kecil yang hanya menyediakan jajanan alakadar nya. Dari situ saya pun berpikir untuk membawa air mineral yg cukup, mie instan + telor tidak lupa saya bawa kompor gas portable + panci nya, kedengaran nya sangat repot sekali, tetapi buat saya  tidak ada kata repot maupun ribet itu adalah suatu kebutuhan untuk sebuah perjalanan dan mempunyai kesenangan tersendiri.  Rute pun sudah saya buat, rute berangkat maupun  rute pulang nya, untuk rute berangkat saya  mulai dari Cikupa – Tigaraksa – Maja – Tenjo – Jasinga – Haurgajrug – Muncang – Cibadak – Cibeber- Bayah, rute tersebut masih masuk wilayah Banten, sedangkan rute pulang nya melalui Bayah- Malingping – Gunung Kencana – Cileles – Cikulur – Rangkas bitung – Cikande – Cikupa – Tangerang.
Rancangan rute pun saya sampaikan kepada teman-teman, dan mereka pun setuju semua. Tetapi saya sangat ragu untuk rute itu kalau berangkat malam di tambah lagi dengan informasi yg saya dapat bahwa wilayah Maja dan Jasinga sangat rawan kejahatan, dan saya pun berpikir lagi tentang rute tersebut di karenakan tim riding hanya 5 motor sedangkan yang 2 motor masih belum pengalaman riding di malam hari dengan rute yang cukup ekstrim.  Akhir nya saya ubah semua rute nya.  Rute betangkat menjadi rute pulang sedangkan rute pulang menjadi rute barangkat tetapi riding nya di pagi hari karena jalur nya sangat rawan kalau malam hari.  Ya maklum ada beberapa yg baru bergabung untuk perjalanan seperti itu.

 

 

Jum’at, 7 September 2012

Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 , waktu untuk bergegas pulang dari aktivas rutin sehari-hari, dan supaya bisa packing lebih awal.
Pukul 17.50 saya pun tiba di rumah, packing pun selesai selama satu jam setengah. Wah lama juga yak….alasan lama karena saya harus bawa kompor gas portable sama panci nya, dan alat2 pendukung nya, saya harus mancari posisi yang pas supaya tidak menggangu pada saat riding, tenda, matras dan sleeping bag pun tidak lupa saya bawa, buat jaga-jaga kalau saja di butuhkan. Repot amat yak…hehehehe

Oiya…kali ini perjalanan di temani oleh Bro Aden dan istri nya, Bro Acuy, Bro Dadan, Bro Fajar, Bro Hendri dan Bro Jimi. Untuk tempat titik kumpul nya adalah di karawaci tangerang sedangkan saya menunggu di Citra Raya Cikupa. Tepat pukul 21.00 Bro Aden dan istri nya sudah sampai di tempat titik kumpul untuk menunggu yang lain nya, akhir nya satu persatu mereka datang,  tepat pukul 22.30 mereka pun meluncur ke Cikupa. Saya pun langsung meluncur juga. Sesampai nya di Citra Raya Cikupa ternyata masih sepi, hmmm….

Tepat pukul 23.00 rombongan akhir nya datang juga. Sebelum berangkat kita berdoa sejenak , setelah selesai kita langsung meluncur melewati jalan raya serang, RC ( Road Captain ) Bro Fajar, Bro Acuy, Bro Jimi, Bro Aden, saya dan Bro Dadan sebagai sweeper. Dengan kecepatan 60 – 80 Kpj kita melaju di temani oleh angin malam dan truck-truck tronton, satu demi satu truck-truck  kita lewati secara tertib dan beriringan dengan kondisi jalan yang sepi dan gelap akibat tidak ada nya  lampu penerangan jalan.
Ketika memasuki daerah Balaraja  dan sedang melaju dengan asyik nya tiba-tiba sebuah barang yang berada di tank bag saya terjatuh, akibat lupa di tutup tank bag nya…haddeehh…dasar pikun.  akhir nya Bro Dadan balik arah untuk mengambil barang yang terjatuh tersebut, dan saya pun ikut balik arah, tetapi Bro Dadan sudah tidak ada, rupa nya dia tidak  melihat saya putar balik, Bro Dadan pun langsung ngacir untuk menyusul rombongan dengan kecepatan yang sangat tinggi, pikir dia saya sudah di depan, padahal saya berada di belakang dia, hadeeeuuuhh…..
Alhasil..posisi saya sekarang ada di belakang dan ketinggalan sangat jauh, tetapi saya melaju sangat santai aja, paling rombongan akan menunggu di depan. Benar saja feeling saya, ternyata rombongan sudah menunggu saya, dan kita pun langsung melanjutkan perjalanan.

 

 

Sabtu, 8 September 2012

Tak terasa  satu jam sudah perjalanan,  tepat pukul 00.00 akhir nya kita pun memasuki kota serang dan berhenti di toko swalayan untuk membeli makanan ringan.

Pukul 00.15 kita melanjutkan perjalanan ke pondok baros tempat Base Camp nya anak-anak B-Cop Banten ( Banten Community

Pulsar ), sebagai tempat transit untuk melanjutkan perjalanan di pagi hari.

Tepat pukul 01.00 kita sudah sampai di tempat tujuan yaitu di Pondok  yang terletak di daerah Baros, serang.

Villa base Camp B-Cop Banten

Pondokan Base Camp B-Cop Banten

Sesampai nya di Pondok kita di sediakan kopi hangat  sama Mang Ujang pengurus Pondok tersebut. Di temani kopi dan sebatang rokok obrolan pun semakin asyik, sampai-sampai tidak terasa jam menunjukkan pukul 03.00 sedangkan besok harus bangun subuh dan berangkat pukul 07.00 pagi.

Tepat pukul 05.00 saya pun terbangun untuk melaksanakan Sholat Shubuh, di susul dengan teman-teman yang lain nya. Selesai melaksanakan kewajiban kita pun menyantap nasi uduk dan kopi hangat di selingi dengan obrolan dan canda tawa. Setelah selesai sarapan, saya pun langsung meluncur ke toilet untuk bersih-bersih badan supaya seger dalam perjalanan.

Pukul 07.15 kami pun siap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Sawarna, tidak lupa kami pun berpamitan dengan Mang Ujang dan mengucapkan banyak terima kasih atas pelayanan nya selama menginap di pondok tersebut.

Persiapan melanjutkan perjalanan

Persiapan melanjutkan perjalanan

Foto Bersama sebelum berangkat

Setelah foto-foto bersama kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke Pantai Sawarna, Kali ini rombongan di pimpin oleh saya sendiri sebagai RC ( Road Captainn ) sedangkan posisi sweeper masih Bro Dadan, sedangkan Bro Fajar ada keperluan jadi tidak bisa melanjutkan perjalananan bersama kami.

Kami pun melaju di kecepatan 60 – 80 kpj, perjalanan ini memang agak santai tidak di kejar-kejar oleh waktu untuk sampai ke tempat tujuan. Tujuan perjalanan ini hanya untuk menikmati perjalanan saja dan menikmati pemandangan sekitar nya. Sesampai nya di Alun-alun Pandeglang kami pun sempat bingung untuk mencari jalur arah ke Gunung Kencana, karena di GPS menunjukkan jalur utama melalui jalur saketi. Kami pun bertanya kepada penduduk sekitar arah ke Gunung Kencana, ternyata harus putar balik dan melewati alun-alun lagi. Sempat buka gmaps melalui ponsel ternyata jalur arah Gunung Kencana masih lumayan jauh.

Akhir nya kita memasuki jalur arah Gunung Kencana yang ternyata jalur alternatif dengan kondisi jalan lumayan bagus, dan lagi sangat sepi oleh kendaraan roda empat. Terkadang bertemu jalan kelak kelok dan turun naik membuat riding semakin asyik untuk dinikamati. Menemui track lurus dengan view kanan kiri nya pohon karet dan bagus kalau buat foto-foto, akhir nya saya dan rombongan langsung menepi dan memasuki hutan karet untuk mengambil dokumentasi.

Hutan Karet – Cikulur, Banten

Berfoto-foto pun selesai, saat nya melanjutkan perjalanan kembali.

Seperti biasa kecepatan hanya di angka 60-80 kpj dengan kondisi jalan cukup bagus, di tambah view pemandangan yang membuat mata menjadi segar, di tambah lagi jalan yang berkelak kelok dengan pemandangan kiri kanan nya perkebunan kelapa sawit, tetapi sayang untuk kondisi jalan kurang bersahabat di karenakan banyak lubang, kami pun harus ekstra hati hati untuk menghindari lubang-lubang tersebut. Memasuki Desa Cileles pun kondisi aspal tidak bersahabat, banyak bertaburan pasir dan kerikil di tambah lagi banyak lubang.

Tidak lama kemudian Bro Acuy menyusul saya untuk memberitahukan bahwa motor nya membutuhkan bahan bakar, dan saya pun dengan sigap langsung mencari bensin eceran karena tidak ada nya SPBU di daerah tersebut, baru ada di daerah Bayah. Akhir nya kami pun berhenti di tempat penjual bensin eceran.

Perjalanan kami lanjutkan kembali, kali ini saya mencari tempat untuk beristirahat di karenakan tenggorokan sudah mulai kering dan harus segera di bahasi, di tambah dengan terik matahari yang sangat menyengat sekali, kondisi jalan yang sangat tidak bersahabat di campur dengan debu-debu jalanan, sampai-sampai pepohonan berganti warna dari hijau menjadi coklat, di sebabkan oleh debu-debu yang bertebaran, ternyata banyak juga truk berukuran sedang lewat jalur gunung kencana dan malingping.

Tak lama kemudian saya menemukan tempat yang cocok buat istirahat, yaitu di warung makan yang berbentuk saung, akhirnya kami pun merapat ke saung tersebut yang mana masuk wilayah Desa Cijaku, Malingping. Warung makan tersebut bernama Saung Balqist. Posisi saung tersebut berada di pinggir jalan yang sangat kurang nyaman karena di hujani debu-debu yang bertebaran, tetapi kekurangan itu di tutupi dengan adanya kolom ikan yang letak nya persis di belakang saung tersebut dan di depan saung terdapat pohon yang menutupi saung sehingga terkesan nyaman. Saung tersebut selain menyediakan berbagai minuman dan makanan, juga menyediakan masakan matang, perut kami pun sudah berasa sedikit lapar, tetapi sayang nya lauk nya ada yang belum matang, alhasil kami hanya minum saja. Tepat pukul 10.00 kami beristirahat di saung ini.

Saung Balqist, Cijaku, Malingping

Setelah Rasa haus dan  capek ini telah hilang, kami pun melanjutkan perjalananan tepat pukul 10.30,  cuaca terasa panas sekali dan di campur oleh debu-debu jalanan dengan kondisi jalan rusak lumayan parah.

Tidak terasa kami pun sudah memasuki Kota Malingping, alun-alun dan pasar tradisonal malingping kami lewati dengan kecepatan rendah karena banyak lalu lalang bermacam-macam kendaraan.

Pukul 12.00 kami memasuki Wilayah Bayah – Sawarna,  tinggal mencari Desa Sawarna dengan jembatan gantung nya, ketika menemukan tanjakan, dari kejauhan terlihat Tanjung Layar.

Tanjung Layar di lihat dari tanjakan

Sesampai nya di pintu masuk dengan akses penghubung jalan nya adalah jembatan gantung, saya pun langsung memasuki area jembatan tersebut, dengan penuh keseimbangan saya pun jalan perlahan, di posisi tengah saya mencoba tarik gas, alhasil saya kehilangan keseimbangan dan stang pun nyangkut diantara kawat-kawat jembatan tersebut, dengan berat beban motor di tambah bawaan lumayan banyak, saya menahan motor supaya tidak bersender pada kawat, di takutkan kawat tersebut akan putus. saya tahan semampu saya untuk menunggu bantuan dari warga sekitar. Alhamdullilah…akhirnya saya di bantu beberapa orang untuk membantu menarik motor saya yang setang nya tersangkut di antara kawat-kawat, kerusakan hanya wind shield saja ada beberapa bagian yang patah, dengan perlahan saya saya tarik gas dan akhir nya sampai juga di ujung jembatan. Saya pun langsung memarkirkan motor di pinggir untuk menunggu teman-teman yang lain yang sedang melewati jembatan gantung, dan semoga semua lancar dalam melewati nya. Untuk memasuki area pantai dan tanjung layar di pungut biaya Rp.3000,- per orang. Kami pun mencari home stay untuk menginap. Saya teringat dengan Widi Homestay yang saya dapat dari rekomendasi Om Ija, saya pun langsung menuju home stay tersebut. Sesampai di Widi Homestay ternyata full, memang sebelum nya saya tidak booking. Akhir nya kami pun mencari home stay yang lain. Kebetulan kami menemukan Home Stay yang mana masih tersedia kamar kosong, yaitu di AURA Home Stay. Per orang terkena biaya Rp. 120.000,- dapat 3 kali makan. Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 waktu nya makan siang yang sudah di sediakan oleh pemilik home stay.

AURA HOME STAY

Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 waktu nya makan siang, yang sudah di sediakan oleh pemilik home stay. Setelah selesai makan siang kami pun melaksanakan aktivitas masing-masing, ada yang mandi, tidur dan ngobrol di tambah dengan kopi buatan Sis Pipit, istri dari Bro Aden.

Jam 02.15 mata saya terasa berat sekali, akhir saya pun beranjak ke kasur untuk memejamkan mata sejenak, karena nanti sore kita akan mengunjungi pantai dan tanjung layar.

Ngantuk berat

Tak terasa tidur sangat lelap nya, bangun-bangun sudah jam 04.15 saat nya mengunjungi pantai dan tanjung layar dan bermain pasir sambil mengendarai motor, pasti mengasyikkan nih…

Gapura menuju ke pantai dan tanjung layar

Setelah melewati jalan setapak setelah jalan pasir, saya terjebak di lautan pasir alhasil ban pun nancep tidak bisa jalan, dengan bantuan teman-teman motor pun di dorong dan berhasil untuk jalan lagi.  Ada beberapa teman yang terjatuh akibat petakilan di lautan pasir, termasuk saya juga. Side Box dan Tail Bag sengaja saya tidak lepas supaya makin berat aja tuh motor di pasir.

Akibat petakilan

Nah….kan…

Tiba-tiba saja ada seorang kawan dari forum Nusantaride yang menyusul kami, yaitu Aulia atau di facebook Pies Pilot, tapi saya liat dia hanya sendiri, biasa nya bawa boncenger nya, di simpan dimanakah boncenger nya ??

Aulia pun bergabung dengan kami untuk menuju ke tanjung layar. Sesampai nya di Tanjung Layar saya di buat kagum oleh penampakan batu yang besar dan mirip dengan layar perahu dan sangat unik sekali, begitu indah nya alam Indonesia ini dan tidak luput dari campur tangan Allah SWT.  Maha suci Allah SWT dengan segala ciptaan nya.

Tanjung Layar

Saya pun tanpa ragu turun kebawah menuju lokasi Batu Tanjung Layar tersebut buat keperluan dokumentasi bersama si Gaby motor kesayangan saya. Karena saya ingat pesan dari Om Ija, ” Pram, harus foto disini “. Nah, dari pada saya di tagih mending saya nekat turun kebawah, untuk naik nya  gampang deh, kan ada teman-teman yang ngebantuin dorong ke atas, he..he..he..

Tidak lama kemudian teman-teman menyusul kebawah untuk tujuan yang sama.

Si Gaby berpose

Saya dan teman-teman masih sibuk dengan kamera masing-masing untuk mendapat kan gambar terbaik di tempat yang begitu indah, ada juga yang narsis bergaya ala Boy Band.

Mata tak ada bosan  nya memandang ombak yang menerpa batu karang, dan telingan pun tak bosan nya mendengar suara ombak, tidak menyesal datang ke tempat wisata ini.

Setelah kami puas menikmati semua keindahan pantai, kami pun kembali ke tempat penginapan karena hari sudah mulai gelap.

Tepat pukul 19.30  makan malam pun sudah di sediakan, tanpa ragu pun kami langsung menikmati makan malam dengan ayam goreng di tambah sambal yang pedas nya luar biasa.  Santap makan malam telah selesai, dengan mengisi ke kosongan waktu kami bermain domino, tidak terasa 3 jam sudah bermain tiba-tiba rasa lapar itu datang lagi. Untung saja saya bawa kompor gas portable dan Bro Aden bawa mie instan, Bro Acuy yang menjadi koki nya.

Minggu, 9 September 2012

Tak terasa jam menunjukkan pukul 00.35, mata sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi, sudah ngantuk berat. Saya pun masuk kamar, melihat Bro Dadan sudah tertidur dengan pulas nya, tapi saya mengurungkan niat untuk tidur di dalam kamar, karena udara malam ini terasa panas sekali, saya pun tidur di pelataran kamar dengan menggunakan sleeping bag yang saya bawa. Besok kami akan memulai perjalanan pukul 7 pagi, karena Bro Hendri ada janji dengan klien nya,  jam 4 sore harus sudah sampai di Jakarta.

Pukul 06.00 kami semua siap-siap untuk beres-beres barang bawaan supaya tidak ada yang ketinggalan. Sehabis mandi saya dan teman-teman langsung menyantap makan pagi.

tepat pukul 08.15 kami semua mulai untuk perjalanan pulang ke rumah. Sangat di sayangkan untuk momen di jembatan gantung sama sekali tidak ada dokumentasi nya, saya dan teman-teman tidak ada yang ingat sama sekali untuk berfoto di jembatan tersebut. ya sudahlah mungkin lain waktu kalau kesini lagi.

Dalam perjalanan pulang, saya sempatkan berhenti di atas tanjakan habibi untuk mengambil beberapa gambar, teman-teman pun ikut berhenti, tetapi saya tidak melihat Bro Adin dan istri nya, saya tanya sama Bro Dadan katanya mereka sedang foto-foto, saya pun tidak yakin, karena di bawah sana tidak ada pemandangan yang bagus dan saya ber firasat ada masalah dengan motor nya, karena di tunggu cukup lama tidak kunjung datang.

Setelah beberapa menit kemudian Bro Aden dan istri akhir nya datang juga, tetapi dengan kondisi motor di tuntun dengan bantuan warga yang sedang lewat mendorong dari belakang karena kondisi jalan yang menanjak. Saya pun penasaran apa yang terjadi dengan mereka. Bro Adin pun bercerita tentang kejadian yang menimpa nya. Ternyata seawaktu menanjak kondisi motor dalam keadaan netral, alhasil motor pun mundur ke bawah, di masukkan ke gigi satu tidak pengaruh, tetap saja mundur, akibat nya Bro Aden dan istri pun jatuh meluncur kebawah, untung saja tidak ada luka yang serius hanya luka-luka ringan saja dan untung nya lagi kepala terlindungi oleh helm. Akibat jatuh perseneling nya jadi tidak berfungsi di karenakan posisi nya masuk ke dalam dan harus di benarkan seperti semula. Alhamdulilah motor Bro Aden sudah kembali normal, perjalanan pulang di lanjutkan kembali, Jam sudah menunjukkan pukul 08.45.

Sebelum melanjutkan perjalanan pulang, kami pun mampir ke SPBU satu-satu nya yang ada di jalan raya Bayah. Rencana awal untuk rute pulang melewati jalur Cibeber, Lebak banten dan tembus ke Jasinga Bogor arah Tangerang, tetapi Bro Hendri meminta untuk jalur Malingping saja karena takut tidak sempat waktu nya, karena sudah ada janji dengan klien nya jam 4 sore. Padahal jalur cibeber tersebut sangat ajib dan banyak tantangan nya, mulai jalan mulai sampai jalan rusak di tambah dengan jalur yang berkelak kelok, kalo di lihat dari google maps. Mungkin lain waktu akan saya lewati jalur Cibeber tersebut, karena saya masih penasaran dengan kondisi jalur tersebut.

Akhir nya kami kembali melewati jalur jalan raya Bayah – Malingping,  tidak lama perjalanan saya tidak lupa mampir untuk ke tepi pantai untuk mengambil beberapa gambar di tepi pantai yang dengan sudut yang berbeda. Ketika saya memasuki area pantai saya batalkan untuk turun ke bawah karena kondisi pasir yang sangat dalam sekali, karena jarang terjamah oleh kendaraan lain. Hanya Bro Dadan saja yang berani turun, sedangkan  Bro Hendri sudah siap-siap turun tetapi malah balik arah lagi naik  ke atas.

Bro Hendri siap turun

Jiiaaaahhh…Dia balik lagi…ha..ha..ha..

Bro Dadan sedang sibuk ber foto ria

Si Gaby hanya bisa memandang dari kejauhan

Setelah usai ber foto-foto, perjalanan pulang kami lanjut kan dengan kecepatan 60 – 90 kpj, dengan kondisi jalan yang sepi. Di tengah perjalanan tiba-tiba kami semua di di kejutkan ada nya mayat di pinggir jalan yang hanya di tutupi dengan daun pisang, beserta motor nya yang dengan kondisi ban terlepas, ternyata baru saja terjadi kecelakaan antara motor dan mobil truck, tetapi sedang di tangani oleh petugas dari kepolisian. Dari kejadian itu saya langsung merinding dan teringat dengan kawan-kawan di belakang saya, sebagai RC saya harus lebih ekstra hati-hati untuk membawa rombongan.

Tepat pukul 11.30 kami pun bersitirahat di daerah wilayah Gunung Kencana, tepat nya di sebuah warung yang cukup nyaman untuk istirahat karena warung tersebut tersedia bale dari bambu, bisa untuk meluruskan pinggang.

Perjalanan kami lanjutkan pada pukul 12.10 setelah cukup beristirahat selama 25 menit, kali ini kami mengambil jalur Rangkas bitung – Cikande. Masuk wilayah rangkasbitung ternyata ada kemacetan, penyebab nya adalah ada perbaikan jalan sehingga hanya satu jalur yang di pakai secara bergantian dari jalur yang berlawanan. Panas nya matahari membuat kami sangat kelelahan di tambah dengan rasa lapar yang kian merajai isi perut. Tak lama kemudian kami pun beristirahat di sebuah warung makan yang kondisi nya sangat tidak nyaman, karena tercampur oleh debu-debu jalanan, tepat pukul 01.30 kami beristirahat.

Perjalanan kami lanjutkan kembali, dengan kecepatan 60-90 kpj, jalur Cikande pun kami lewati dengan lancar, biarpun kondisi jalan yang sangat rusak parah dan bergelombang pula, sangat bahaya sekali untuk kendaraan roda dua bila melintasi nya di malam hari.

Memasuki jalan raya balaraja lalulintas semakin ramai dan semrawut, kami lewati dengan lancar dan tidak ada hambatan apapun. Memasuki Pasar cikupa kami pun berpisah, Bro Adin ber belok ke kiri ke arah Pasar kemis, sedangkan saya ke kanan masuk ke Citra Raya Cikupa, teman-teman lain berlanjut  menuju ke rumah masing-masing.

Tepat pukul 15.30 saya tiba di rumah dengan keadaan sehat wal afiat, Alhamdulilah……

Silahkan mampir di Forum Kami : http://www.nusantaride.com

http://www.nusantaride.com/Forums/showthread.php?t=743

Categories: Adventure on 2012 | Tinggalkan komentar

COMPANY PROFILE PT. BPRS HIK

03 Company Profile_BPRS_HIK

Sumber: COMPANY PROFILE PT. BPRS HIK

Categories: Adventure on 2012 | Tinggalkan komentar

PRODUK INVESTASI DEPOSITO HIK

Silahkan klik link di bawah ini untuk melihat detail produk dan penawaran nya : SURAT PENAWARAN DEPOSITO  ILUSTRASI BAGI HASIL DEPOSITO http://www.bprshik.co.id

Sumber: PRODUK INVESTASI DEPOSITO HIK

Categories: Adventure on 2012 | Tinggalkan komentar

COMPANY PROFILE PT. BPRS HIK

03 Company Profile_BPRS_HIK

Categories: Adventure on 2012, PRODUK PT. BPR SYARIAH HIK CABANG KARAWACI | 1 Komentar

Blog di WordPress.com.

Blog Informasi

Your news sources !

Tak Habis Pikir Duniaku

Inilah Dunia Kita - Banyak Yang Saya Pikirkan!

Melihat Negeri Sendiri

Walaupun banyak negeri kujalani, di kampung dan rumahku lah rasa senang...

matariza

personal, portfolio and playground